klikduakali.id – Perkembangan teknologi dan masifnya penggunaan media sosial membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk bagi perempuan. Hal ini menjadi perhatian Mojang Panilih Subang, Naura Aisya Salsabila, yang menyoroti pentingnya peran perempuan di tengah arus digitalisasi yang kian cepat.
Menurut Naura, perempuan tidak lagi hanya menjadi pengguna pasif di media sosial. Lebih dari itu, mereka memiliki potensi besar sebagai penggerak perubahan yang mampu memberikan dampak luas melalui konten dan gagasan yang disampaikan.
“Saya melihat perempuan memiliki peran besar di era digital dan media sosial sebagai agen perubahan. Perempuan tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai kreator dan penyampai pesan yang bisa membawa dampak positif, edukasi, dan inspirasi bagi masyarakat,” ujarnya.
Namun, di balik peluang tersebut, Naura menilai masih terdapat tantangan yang cukup signifikan. Ia mengungkapkan bahwa tidak semua perempuan merasa memiliki ruang yang aman dan setara untuk menyampaikan pendapatnya di ruang publik, khususnya di dunia digital.

“Menurut saya, perempuan saat ini sudah memiliki ruang untuk bersuara, tetapi belum sepenuhnya setara dan aman. Masih banyak perempuan yang ragu untuk berbicara karena takut akan stigma atau penilaian negatif. Karena itu penting untuk tidak hanya membuka ruang, tetapi juga memastikan lingkungan yang mendukung dan aman,” katanya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa perjuangan isu perempuan di Indonesia masih berkutat pada aspek mendasar, seperti kesetaraan akses dan perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk yang terjadi di ruang digital.
“Isu perempuan yang masih perlu diperjuangkan di Indonesia adalah kesetaraan akses dan perlindungan dari kekerasan termasuk di ruang digital. Karena perempuan juga butuh rasa aman dan dukungan untuk berdaya dan tetap bersinar,” ungkapnya.
Naura pun berharap ke depan akan semakin banyak ruang aman yang mendukung perempuan untuk berkembang secara optimal. Dengan dukungan yang tepat, perempuan diyakini mampu berkontribusi lebih luas, tidak hanya di dunia digital, tetapi juga dalam berbagai sektor kehidupan sosial. (Redaksi : klikduakali– SA)




