Heboh! Kepala SPPG Pakai Motor Trail Listrik Rp 50 Juta, Emang Perlu?

Heboh! Kepala SPPG Pakai Motor Trail Listrik Rp 50 Juta, Emang Perlu?

Klikduakali.id – Rencana pengadaan puluhan ribu unit motor listrik dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kontroversi di tengah masyarakat. Hal ini disebabkan besarnya anggaran yang harus dikeluarkan, sehingga memunculkan pertanyaan terkait efektivitas dan prioritas penggunaan dana.

Kemunculan ribuan motor listrik dengan logo Badan Gizi Nasional (BGN) belakangan ini memicu kehebohan di tengah masyarakat. Pasalnya, jumlahnya disebut mencapai puluhan ribu unit yang rencananya akan didistribusikan kepada Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna mendukung pelaksanaan program di lapangan.

Motor listrik yang dimaksud terdiri dari model Emmo JVX GT yang mengusung desain ala motor trail untuk medan yang lebih menantang. Selain itu, tersedia juga skuter listrik Emmo JVH Max yang dirancang untuk penggunaan di area perkotaan.

Mengacu pada situs resminya, Emmo JVX GT dipasarkan dengan harga Rp 56,8 juta. Adapun skuter listrik Emmo JVH Max memiliki harga sekitar Rp 48,8 juta, dengan kemampuan kecepatan hingga 90 km/jam, jarak tempuh mencapai 70 km, serta didukung baterai 72V 30Ah.

Di sisi lain, Dadan Hindayana menjelaskan bahwa harga motor listrik yang diadakan untuk Kepala SPPG mencapai Rp 42 juta per unit. Menurutnya, angka tersebut lebih hemat sekitar Rp 10 juta dibandingkan harga pasar yang berkisar Rp 52 juta.

Meski telah dijelaskan dari sisi harga, pemilihan motor listrik tersebut tetap menuai tanda tanya. Bebin Djuana menyoroti apakah penggunaan motor trail listrik dengan harga sekitar Rp 50 jutaan benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional Kepala SPPG.

“Untuk apa? Kenapa pilih seperti itu, kenapa pilih spesifikasiseperti itu, untuk apa? Bahwa kepala dapur perlu kendaraan, kita bisa maklumin, masa dia suruh jalan kaki. Bahwa perlu beli motor listrik yang Rp 50 juta, itu jadi tanda tanya besar. Negara yang semaju di Skandinavia sana pun rasanya nggak perlu pakai motor yang Rp 50 juta,” kata Bebin kepada detikOto, Kamis (9/4/2026).

“Kenapa sih mesti segitu mahal? Kenapa sih tidak memberdayakan membuatnya di dalam negeri?” ujar Bebin.

Menurut Bebin Djuana, penggunaan kendaraan listrik merupakan langkah positif dalam menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Meski demikian, ia tetap mempertanyakan keputusan memilih motor listrik dengan harga sekitar Rp 50 jutaan yang dinilai belum tentu sesuai kebutuhan.

“Kenapa mesti sampai yang Rp 50 juta?Kalau kita mau memberdayakan industri dalam negeri, memberi pekerjaan kepada anak muda, kenapa nggak dibangun di Indonesia? Putra-putri kita bahkan, pemikiran saya, lulusan STM kalau diberi pengarahan pendidikan, diajari bagaimana membangun kendaraan roda tiga yang bisa mengirim barang, pasti mampu, yakin saya,” ucap Bebin.

“Kalau perawatan memang kendaraan listrik itu akan menjadi minim perawatan. Kalau motor tersebut buatan dalam negeri, melakukan pendidikan untuk mereka-mereka yang akan merawat, bengkel pinggir jalan sekalipun kan jadi bisa (menanganinya),” katanya. (Redaksi : klikduakali-TH)

Baca Juga :  Sikap Buruk Suporter Tottenham di Derbi London Utara: Ejek Declan Rice dengan Foto Kekasihnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 5 =