klikduakali.id – Ratusan pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Bandung saat ini menghadapi tantangan berat akibat meningkatnya harga bahan baku dan biaya produksi. Kenaikan harga kedelai impor yang disertai melonjaknya biaya kemasan membuat para perajin harus mencari berbagai cara agar usaha mereka tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Berdasarkan data Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Bandung, terdapat sekitar 620 perajin tahu dan tempe yang aktif menjalankan usahanya. Sebagian besar di antaranya masih bergantung pada kedelai impor sebagai bahan baku utama produksi.
Ketua Kopti Kabupaten Bandung, Ghufron Cokro Valentino, menjelaskan bahwa harga kedelai terus mengalami kenaikan secara bertahap dalam beberapa pekan terakhir. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp9.000 per kilogram, kini harga kedelai telah mendekati Rp11.000 per kilogram di tingkat perajin.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi. Untuk menjaga keberlangsungan usaha, sejumlah perajin memilih mengurangi ukuran produk, menekan volume produksi, hingga melakukan efisiensi pada berbagai aspek operasional. Langkah tersebut dilakukan agar harga jual tetap dapat dijangkau oleh konsumen yang saat ini juga menghadapi tekanan ekonomi.

Tidak hanya kedelai, biaya kemasan plastik juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Lonjakan harga bahan kemasan bahkan disebut mencapai sekitar 80 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan tersebut semakin memperberat beban pelaku usaha mikro dan kecil yang bergerak di sektor pangan.
Selain meningkatnya biaya produksi, para perajin juga menghadapi penurunan daya beli masyarakat. Akibatnya, omzet penjualan di sejumlah sentra produksi tahu dan tempe mengalami penurunan dibandingkan kondisi normal. Situasi ini membuat pelaku usaha harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan pelanggan sekaligus menjaga kualitas produk.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung, Dicky Anugerah, mengatakan bahwa ketergantungan terhadap kedelai impor masih menjadi tantangan utama bagi industri tahu dan tempe. Menurutnya, pengembangan kedelai lokal dengan kualitas yang mampu bersaing dengan produk impor menjadi salah satu solusi jangka panjang yang perlu didorong.

Pemerintah daerah juga terus memantau perkembangan harga kebutuhan pokok dan kondisi rantai pasok guna mengantisipasi potensi inflasi. Meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menunjukkan penguatan dalam beberapa hari terakhir, dampaknya belum dirasakan secara langsung oleh para perajin karena harga kedelai impor masih bertahan pada level tinggi.
Para pelaku usaha berharap stabilisasi nilai tukar rupiah dan perbaikan kondisi perdagangan global dapat segera menekan biaya impor bahan baku. Dengan demikian, industri tahu dan tempe yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat dapat terus bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan yang ada. (Redaksi : klikduakali-IN)




