Klikduakali.id – Pemerintah melalui Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya angkat bicara terkait kritik terhadap kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, rangkaian lawatan yang dilakukan Presiden tidak hanya dijalankan secara efisien, tetapi juga menghasilkan berbagai capaian yang berdampak bagi kepentingan nasional.
Dalam unggahan resmi Sekretariat Kabinet RI di Instagram, @sekretariat.kabinet, Senin (1/6/2026), Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik terkait penggunaan anggaran untuk kunjungan luar negeri Presiden Prabowo. Ia menegaskan bahwa seluruh perjalanan dinas tersebut dilaksanakan secara terukur dan memberikan manfaat bagi kepentingan nasional.
Menurut Teddy, komitmen efisiensi diwujudkan melalui berbagai langkah konkret, salah satunya dengan mengurangi secara signifikan jumlah anggota rombongan yang menyertai Presiden Prabowo dalam lawatan luar negeri.
“Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran, lebih dari separuh dari periode sebelumnya,” ujar Teddy dalam unggahan tersebut seperti yang dikutip dari laman Kompas.tv, Selasa (2/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa efisiensi terlihat dari berkurangnya jumlah anggota rombongan presiden saat melakukan kunjungan ke luar negeri. Jika sebelumnya satu rombongan bisa berjumlah lebih dari 120 orang, kini jumlahnya ditekan menjadi sekitar 50 hingga 60 orang.
Menurut Teddy, kunjungan kerja Presiden tidak dimaksudkan untuk membebani keuangan negara. Ia menjelaskan bahwa setiap kelebihan biaya yang tidak tercakup dalam anggaran APBN menjadi tanggung jawab pribadi Presiden Prabowo.
“Segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” ucap Seskab Teddy.
Membantah kritik yang menyebut kunjungan luar negeri Presiden hanya bersifat simbolis, Teddy memaparkan sejumlah hasil yang diklaim berhasil dicapai melalui diplomasi langsung Presiden Prabowo. Capaian tersebut, kata dia, diperoleh dalam rentang sekitar 1,5 tahun masa pemerintahan berjalan.
Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Sekretariat Kabinet, berikut adalah sejumlah hasil nyata dari diplomasi luar negeri Presiden Prabowo:
- Stabilitas Domestik & BRICS: Keputusan Indonesia bergabung dengan blok ekonomi BRICS dinilai efektif memitigasi gejolak global. Dampak instannya dirasakan pada amannya stok pangan nasional, terjaminnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM), serta terjaganya harga BBM subsidi agar tidak mengalami kenaikan.
- Capaian Investasi Masif: Mengacu pada data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total investasi yang mengalir masuk ke Indonesia dalam 1,5 tahun terakhir menembus angka sekitar Rp2.430 triliun. Secara khusus, usai kunjungan luar negeri Presiden ke Jepang dan Korea Selatan, komitmen investasi sebesar Rp575 triliun berhasil diamankan.
- Perdagangan & Tarif 0% Uni Eropa: Kesepakatan dagang strategis berupa tarif 0 persen dengan Uni Eropa berhasil dicapai pada tahun 2025 lalu di masa pemerintahan Presiden Prabowo.
- Modernisasi Pertahanan: Di sektor pertahanan dan keamanan, kunker presiden berhasil memperkuat alutsista nasional melalui pengadaan alat pertahanan mutakhir dari berbagai negara produsen utama, seperti Prancis, Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya.
- Kelancaran Urusan Keagamaan: Seskab Teddy juga menambahkan bahwa jalur diplomasi yang kuat turut berimplikasi positif pada kelancaran penyelenggaraan ibadah haji bagi jemaah Indonesia pada musim haji tahun 2025 dan 2026.
Pemerintah menegaskan bahwa seluruh langkah diplomasi luar negeri Presiden Prabowo dijalankan secara terukur dan efisien, dengan fokus pada kepentingan ekonomi nasional serta penguatan kedaulatan Indonesia di tengah perubahan situasi global. (Redaksi : klikduakali-TH)




