El Nino dan Kemarau Bukan Hal yang Sama, BMKG Minta Masyarakat Tak Salah Paham

El Nino dan Kemarau Bukan Hal yang Sama, BMKG Minta Masyarakat Tak Salah Paham

klikduakali.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau tanpa henti sepanjang periode tersebut.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Indonesia tetap dipengaruhi berbagai faktor lokal, termasuk karakteristik wilayah yang memiliki ratusan zona musim berbeda. Karena itu, dampak El Nino tidak akan dirasakan secara seragam di seluruh daerah.

Menurut Faisal, Indonesia memiliki 699 Zona Musim (ZOM) yang menyebabkan pola hujan dan musim di setiap wilayah berbeda. Meski El Nino berada pada kategori kuat pada 2026, dinamika atmosfer dan kondisi geografis tetap berperan dalam menentukan intensitas kekeringan di masing-masing daerah.

Ia menuturkan, dampak paling signifikan diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga Oktober 2026, saat El Nino bertepatan dengan puncak musim kemarau. Wilayah di selatan khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua diprediksi menjadi daerah yang paling merasakan penurunan curah hujan.

BMKG mengingatkan bahwa El Nino merupakan fenomena iklim global yang terjadi secara berkala akibat peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Fenomena tersebut berbeda dengan musim kemarau yang merupakan siklus tahunan akibat pengaruh angin monsun.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menyamakan kedua fenomena tersebut. El Nino hanya akan memperkuat kondisi kering apabila terjadi bersamaan dengan musim kemarau, sehingga potensi kekeringan menjadi lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

BMKG juga mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dengan memperkuat koordinasi bersama unit pelaksana teknis BMKG di daerah masing-masing. Langkah mitigasi sejak dini dinilai penting guna mengurangi dampak terhadap sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan. (Redaksi : klikduakali-IN)

Baca Juga :  Sambut Ramadan 1447 H, Encep Sugiana Serukan Komitmen Kuat Jaga Kesucian dan Harmoni di Jabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 3 =