klikduakali.id – Konflik di kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kini meluas setelah Iran melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal ke wilayah Kuwait serta Bahrain pada Minggu (28/6/2026). Aksi tersebut menambah daftar eskalasi militer yang terjadi dalam beberapa hari terakhir sekaligus memperbesar ancaman terhadap stabilitas kawasan, termasuk nasib proses negosiasi perdamaian antara Teheran dan Washington.
Pemerintah Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya mempertimbangkan untuk menghentikan seluruh proses pembicaraan damai dengan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut muncul setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa serangan ke Kuwait dan Bahrain merupakan respons langsung atas operasi militer terbaru Amerika Serikat yang sebelumnya menghantam sejumlah fasilitas di wilayah Iran.
Ketegangan Bermula dari Selat Hormuz
Rangkaian konflik terbaru ini berawal dari insiden di Selat Hormuz pada Kamis (25/6/2026). Saat itu, Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) melancarkan serangan terhadap sedikitnya 10 target militer Iran sebagai aksi balasan atas serangan terhadap kapal kargo di jalur pelayaran strategis tersebut.
Serangan Amerika disebut menyasar berbagai aset penting milik Iran, mulai dari fasilitas militer, sistem komunikasi, pertahanan udara, hingga lokasi penyimpanan drone. Sementara itu, IRGC menyatakan sedikitnya lima pos pantai mereka turut menjadi sasaran dalam operasi tersebut.
Di tengah meningkatnya tensi, Iran tetap menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Republik Islam Iran. Dalam kunjungan resminya ke Bagdad, Irak, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat beserta negara-negara sekutunya.
“Segala bentuk campur tangan dalam masalah ini, segala upaya untuk membuat pengaturan baru atau terpisah dari yang saat ini dilakukan oleh Republik Islam Iran, hanya akan menyebabkan komplikasi lebih lanjut. Menunda pembukaan kembali Selat Hormuz, dan meningkatkan tingkat ketegangan, seperti yang kita saksikan selama dua malam terakhir di Selat Hormuz yang menyebabkan peningkatan ketegangan dan konfrontasi,” tegas Araghchi.
Iran Klaim Serang Basis Militer AS
Sebagai tindak lanjut dari aksi balasan tersebut, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang delapan titik infrastruktur penting di Pangkalan Udara Ali al-Salem, Kuwait, menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone. Selain itu, IRGC juga mengaku berhasil menghancurkan Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang berada di Pelabuhan Salman, Bahrain. Kedua lokasi tersebut selama ini dikenal sebagai pangkalan strategis militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Meski demikian, otoritas Kuwait menyampaikan bahwa sistem pertahanan udara mereka mampu mendeteksi serta mencegat dua rudal balistik beserta sejumlah drone yang memasuki wilayah udara negara tersebut pada Minggu pagi. Hingga kini tidak terdapat laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan terhadap fasilitas publik dan infrastruktur di Kuwait.
Sementara itu, pemerintah Bahrain melalui Menteri Dalam Negeri mengungkapkan bahwa salah satu serangan udara Iran sempat mengenai sebuah gedung permukiman yang berada di kawasan Bandara Internasional Bahrain. Kendati bangunan tersebut mengalami kerusakan, pihak berwenang memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Ancaman terhadap Proses Perdamaian
Perkembangan terbaru ini semakin memperburuk hubungan Iran dan Amerika Serikat yang sebelumnya tengah berupaya membuka ruang dialog guna mengakhiri konflik. Ancaman Iran untuk menghentikan seluruh proses negosiasi damai menimbulkan kekhawatiran bahwa situasi keamanan di Timur Tengah dapat kembali memburuk apabila kedua pihak terus melakukan aksi saling balas.
Dengan meningkatnya aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz—jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia—komunitas internasional kini terus memantau perkembangan situasi. Eskalasi yang berlanjut dikhawatirkan tidak hanya berdampak terhadap keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan perdagangan global. (Redaksi : klikduakali – SA)




