Klikduakali.id – Suasana halaman Gedung Sate pada Minggu malam (17/5/2026) dipenuhi gemuruh tepuk tangan dan lantunan dialog para pemain teater. Pergelaran kolosal Padjadjaran Gugat yang disutradarai Sudjiwo Tedjo tampil memukau dan menjadi puncak kemeriahan Milangkala Tatar Sunda di Kota Bandung.
Di balik meriahnya panggung kolosal tersebut, Gubernur Jawa Barat menyampaikan refleksi tentang kondisi seni pertunjukan yang dinilainya perlu kembali dihidupkan.
KDM melihat ada perubahan besar dalam kehidupan generasi muda di era digital saat ini. Di tengah maraknya tontonan tanpa filter di media sosial dan gawai, ia merasa ruang pembentukan karakter dan kepekaan sosial anak mulai terkikis.
“Saat ini tidak ada tontonan yang menjadi tuntunan,” ujar KDM dengan nada retoris usai menyaksikan pertunjukan. “Yang dilihat anak-anak adalah yang meracuni pikiran, rasa, dan masa depan.”ujarnya.
Berangkat dari keresahan itu, KDM ingin mengembalikan kejayaan teater sekolah di Jawa Barat. Ia percaya teater mampu menjadi media pendidikan karakter yang mengajarkan pelajar tentang nilai kemanusiaan dan kepekaan sosial.
Dalam waktu dekat, sekolah-sekolah di Jawa Barat akan menerima surat edaran terkait konsep baru perayaan kenaikan kelas. Kegiatan tersebut nantinya diwajibkan menghadirkan pementasan teater karya siswa sebagai pengganti seremoni yang dianggap monoton.
Merajut Kembali Kejayaan Teater Subang
Upaya membangkitkan kembali teater sekolah sejatinya memiliki akar sejarah yang kuat di Jawa Barat. Di Subang, kejayaan teater pelajar pernah tumbuh dan menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan serta kreativitas generasi muda.
Subang pernah memiliki tradisi teater pelajar yang kuat dan melahirkan banyak talenta muda. Lorong Teater dari SMAN 1 Subang menjadi salah satu contohnya. Kelompok teater yang lahir pada 14 Februari 1992 itu pernah cukup disegani di dunia seni pertunjukan sekolah.
Prestasi Lorong Teater terbilang gemilang di masanya. Mereka pernah empat kali menyabet penghargaan tertinggi pada Festival Drama Basa Sunda (FDBS) di Bandung dan sukses menembus panggung nasional melalui JakART Festival tahun 2002.
Pada masa itu, geliat teater sekolah di Subang tumbuh di banyak tempat. Selain Lorong Teater, sejumlah kelompok seperti Teater Citra SMAN 3 Subang, Teater SMAN 1 Blanakan, dan Teater Bengkel 79 SMAN 1 Jalancagak juga aktif membina kreativitas pelajar.
Lewat program “Teater Masuk Sekolah”, KDM ingin meniup kembali semangat seni peran yang pernah berkembang di Subang dan daerah lain di Jawa Barat. Ia berharap ruang kelas dapat menjadi tempat pelajar belajar memahami kehidupan melalui kreativitas dan ekspresi seni. Di dalam teater, anak-anak bukan sekadar tampil di atas panggung, melainkan belajar mengenali emosi, karakter, dan kehidupan. (Redaksi : klikduakali-TH)




