klikduakali.id – Di balik upaya besar penanganan banjir bandang dan tanah longsor di lereng Gunung Slamet, Purbalingga, tersimpan kisah ketangguhan relawan yang menjaga semangat kemanusiaan di tengah kondisi ekstrem. Salah satunya tercermin dari hadirnya Posko Ngopi atau PoPi, ruang sederhana yang berperan penting menjaga stamina dan solidaritas relawan di lokasi bencana.
PoPi menjadi titik temu para relawan lintas komunitas yang terlibat dalam pembersihan lumpur dan material longsoran. Di sela kerja berat, kopi panas dan minuman hangat menjadi sarana pemulihan energi sekaligus penguat mental.
Keberadaan posko ini terekam dalam sebuah video berdurasi satu menit yang diunggah akun Instagram @igoendonesia pada Minggu (1/2/2026). Video tersebut memperlihatkan relawan beristirahat sejenak sambil menikmati kopi, sebelum kembali melanjutkan proses pembersihan dampak banjir bandang.
Relawan Jaga Fokus dan Keselamatan Lewat Pos Rehat Sederhana
Menurut relawan di lokasi, PoPi bukan hanya tempat minum, melainkan bagian dari strategi menjaga keselamatan kerja.
“Pos minum, macul boleh, asal ngopi dulu,” ujar salah satu relawan dalam video tersebut, menggambarkan pentingnya istirahat singkat di tengah aktivitas fisik yang berat.

Relawan lain menegaskan, konsumsi minuman hangat turut membantu operator alat berat tetap fokus saat membuka akses jalan dan membersihkan material longsoran.
“Operator bisa maksimal kalau semua lancar. Yang penting kopi, semangat, target buat jalan tembus,” ucapnya.
Ratusan hingga ribuan relawan dan petugas gabungan diketahui terlibat dalam fase tanggap darurat banjir bandang di wilayah Purbalingga. Mereka bekerja dalam kondisi medan berat dengan risiko tinggi, terutama di area lereng pegunungan.
Banjir Bandang Lereng Gunung Slamet Berdampak Empat Desa
Bencana banjir bandang dan tanah longsor terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 23–24 Januari 2026, akibat hujan berintensitas tinggi di kawasan lereng Gunung Slamet.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, bencana hidrometeorologi ini berdampak pada empat desa di dua kecamatan, yakni:
- Desa Sangkanayu dan Desa Lambur (Kecamatan Mrebet)
- Desa Kutabawa dan Desa Serang (Kecamatan Karangreja)
BPBD Purbalingga mencatat banjir membawa material batu, kayu, lumpur, dan pohon dari kawasan pegunungan. Akibatnya, sekitar 60 hektare lahan persawahan di Desa Kutabawa rusak dan mengalami gagal panen.
Pemerintah Siapkan Relokasi dan Perbaikan Infrastruktur
Pemerintah Kabupaten Purbalingga bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan kementerian terkait kini fokus pada tahap pemulihan pascabencana. Relokasi warga terdampak menjadi prioritas, dengan persiapan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) yang sedang berlangsung.
Selain itu, perbaikan infrastruktur juga dikebut, terutama jembatan yang putus akibat banjir bandang. Kerusakan tersebut berdampak langsung pada mobilitas warga dan aktivitas ekonomi lokal.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi disebut telah berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk membuka akses sementara guna mendukung distribusi logistik dan percepatan pemulihan wilayah terdampak.
Di tengah proses panjang pemulihan, keberadaan Posko Ngopi menjadi simbol kecil namun bermakna: bahwa solidaritas, perhatian terhadap sesama, dan kepedulian terhadap kondisi relawan adalah bagian tak terpisahkan dari penanganan bencana. (klikduakali)












