klikduakali.id – Pemerintah belum benar-benar mengunci arah harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax. Di tengah tekanan harga minyak dunia yang masih tinggi, pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia justru menegaskan satu hal: kemungkinan kenaikan tetap terbuka.
Bahlil tidak secara tegas menyatakan Pertamax akan naik dalam waktu dekat. Namun, ia juga tidak menutup peluang tersebut. Menurutnya, arah kebijakan harga BBM nonsubsidi sangat bergantung pada pergerakan harga minyak global. Jika tren tinggi ini terus bertahan, maka penyesuaian harga hampir tak terhindarkan.
Dalam beberapa hari terakhir, penyesuaian harga memang sudah mulai terjadi pada sejumlah produk BBM nonsubsidi. Pertamax memang masih bertahan di harga yang sama, namun jenis lain seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sudah lebih dulu mengalami kenaikan signifikan.

Dari sudut pandang pemerintah, kebijakan ini bukan semata keputusan sepihak. Bahlil menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi memang mengikuti mekanisme pasar, berbeda dengan BBM subsidi yang harganya dijaga melalui regulasi. Artinya, ruang intervensi pemerintah terhadap Pertamax jauh lebih terbatas.
Di sisi lain, pernyataan ini juga mencerminkan posisi dilematis pemerintah. Menahan harga berarti menanggung beban pasar, sementara menaikkan harga berisiko menekan daya beli masyarakat.
Bahlil pun memberi sinyal bahwa semua masih bergantung pada dinamika global. Jika harga minyak dunia turun, maka kenaikan tidak akan terjadi. Namun jika tetap tinggi, maka penyesuaian hanyalah soal waktu.
Situasi ini membuat Pertamax berada di titik krusial belum naik, tapi juga belum sepenuhnya aman. Bagi masyarakat, kondisi ini bukan hanya soal harga BBM, melainkan tentang ketidakpastian yang terus membayangi kebutuhan sehari-hari. (Redaksi : klikduakali-CA)




