Klikduakali.id – Festival 7 Sungai 2026 kembali digelar sebagai wadah yang mempertemukan nilai-nilai budaya, kepedulian terhadap lingkungan, dan keterlibatan masyarakat. Dengan mengusung tema “Riksa Cai Raksa Jagat” (Menjaga Air, Merawat Bumi), kegiatan yang berlangsung selama 25–27 Juli 2026 ini menegaskan pentingnya menjaga sungai sebagai penopang kehidupan dan ruang tumbuhnya peradaban.
Menurut Kurator Festival 7 Sungai 2026, Daming Agus Hidayat, sejarah menunjukkan bahwa berbagai peradaban besar lahir dan berkembang di sepanjang aliran sungai. Ia menuturkan, dalam budaya Sunda, air dipandang bukan sekadar sumber daya alam, melainkan memiliki nilai spiritual, sosial, dan kultural yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
“Festival ini mengajak masyarakat untuk kembali melihat sungai bukan sebagai objek eksploitasi atau tempat pembuangan limbah, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati,” ujarnya.
Melalui tema “Riksa Cai Raksa Jagat”, Festival 7 Sungai 2026 mengajak masyarakat memahami bahwa pelestarian air tidak dapat dipisahkan dari kelestarian bumi. Sebab, terjaganya sumber-sumber air akan menopang keseimbangan ekosistem sekaligus menjamin keberlangsungan kehidupan manusia.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, Festival 7 Sungai 2026 mengusung lima pilar utama yang menggambarkan perjalanan sungai sebagai sumber kehidupan. Pilar pembuka, Syukur Sungai, diwujudkan melalui ritual sebagai ungkapan syukur atas karunia air yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.
Festival ini juga menghadirkan Saresehan Sungai, forum yang menjadi ruang dialog bagi budayawan, akademisi, pegiat lingkungan, dan pemangku kebijakan. Hasil pembahasan dalam forum tersebut dirangkum dalam Piagam 7 Sungai, yang diharapkan menjadi pedoman sekaligus komitmen bersama dalam upaya pelestarian sungai setelah festival berakhir.
Komitmen terhadap pelestarian lingkungan diwujudkan melalui penyelenggaraan Kemah Budaya, yang menjadi wahana edukasi bagi generasi muda. Di sana, peserta diajak memahami pentingnya hidup harmonis dengan alam sembari memperkuat kolaborasi dalam menjaga budaya dan lingkungan.
Sejumlah pertunjukan budaya menjadi daya tarik dalam Festival 7 Sungai 2026. Teatrikal bertema sungai, permainan tradisional, kuda renggong, serta tradisi Ngagogo, Tataheunan, Papancakan, dan Papalidan ditampilkan untuk menggambarkan kedekatan masyarakat Sunda dengan sungai yang telah terjalin secara turun-temurun.
Salah satu daya tarik festival adalah Pameran Masyarakat Sungai, yang menyuguhkan koleksi biodiversitas ikan lokal lengkap dengan penjelasan ilmiahnya. Melalui pameran ini, penyelenggara berupaya menghubungkan pengetahuan tradisional masyarakat dengan kajian etno-sains guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian ekosistem sungai.
Festival 7 Sungai 2026 menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai budaya. Melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan, Kabupaten Subang mengajak masyarakat untuk memahami bahwa sungai bukan sekadar sumber air, melainkan aset kehidupan yang harus dijaga demi keberlanjutan generasi mendatang.
Kolaborasi antara kebudayaan, pendidikan lingkungan, dan pendekatan ilmiah yang dihadirkan dalam Festival 7 Sungai 2026 diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi lahirnya gerakan pelestarian sungai di berbagai wilayah. Melalui semangat “Riksa Cai Raksa Jagat”, masyarakat diajak menjadikan kepedulian terhadap sungai sebagai bagian dari budaya yang terus diwariskan kepada generasi mendatang. (Redaksi : klikduakali-TH)




