klikduakali.id – Pergerakan pemudik di Jawa Barat mulai menunjukkan pergeseran pola transportasi menjelang Idulfitri 2026. Di tengah meningkatnya volume kendaraan di jalur arteri, moda transportasi kereta api justru mencatat lonjakan penumpang yang signifikan, menjadi pilihan utama masyarakat untuk menghindari kepadatan di jalan raya.
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dhani Gumelar, mengungkapkan bahwa meskipun lalu lintas di sejumlah jalur seperti Priangan Timur, Pantura Bekasi, hingga kawasan Stasiun Hall Bandung mengalami peningkatan, kondisi masih relatif terkendali.
“Volume kendaraan memang naik sekitar 10 persen, tetapi arus lalu lintas masih ramai lancar,” ujarnya.
Di sisi lain, lonjakan tajam justru terlihat pada moda transportasi kereta api. Data menunjukkan jumlah penumpang kereta api jarak jauh di wilayah DAOP II mencapai 57.729 orang dalam satu hari, meningkat hingga 90,12 persen dibandingkan hari sebelumnya. Tren serupa juga terjadi di DAOP III yang mencatat kenaikan hingga 95,64 persen dengan total 30.060 penumpang.
Kenaikan ini mengindikasikan adanya perubahan preferensi masyarakat dalam memilih moda transportasi. Kereta api dinilai lebih efisien dan nyaman di tengah potensi kemacetan arus mudik. Bahkan, layanan transportasi berbasis rel lainnya juga mengalami lonjakan signifikan. LRT mencatat peningkatan hingga 130,3 persen menjadi 29.555 penumpang, sementara Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengangkut 30.345 penumpang atau naik 51,81 persen.

Fenomena ini menunjukkan bahwa integrasi transportasi publik mulai memberikan dampak nyata dalam mengurangi beban jalan raya. Meski demikian, tidak semua wilayah mengalami peningkatan. Di DAOP I, jumlah penumpang justru sedikit menurun sebesar 3,32 persen, menandakan adanya distribusi arus yang lebih merata.
Selain kereta api, moda transportasi udara juga mengalami lonjakan. Bandara Husein Sastranegara mencatat peningkatan penumpang hingga 121 persen, memperlihatkan tingginya mobilitas masyarakat menjelang Lebaran. Sementara itu, aktivitas di Bandara BIJB Kertajati masih terbatas karena jadwal penerbangan yang belum rutin setiap hari.
Dengan tren ini, mudik Lebaran 2026 di Jawa Barat tidak hanya soal peningkatan jumlah pemudik, tetapi juga perubahan perilaku dalam memilih transportasi. Peralihan ke moda berbasis rel menjadi sinyal positif bagi upaya mengurai kemacetan, sekaligus menunjukkan bahwa transportasi publik semakin menjadi pilihan utama masyarakat. (Redaksi : klikduakali-IN)












