Krisis Sampah Subang, Volume Sampah dan Sistem Pengelolaan Belum Seimbang

Krisis Sampah Subang, Volume Sampah dan Sistem Pengelolaan Belum Seimbang

klikduakali.id – Lonjakan produksi sampah di Kabupaten Subang menjadi alarm serius bagi tata kelola lingkungan daerah. Dengan estimasi mencapai 900 ton per hari berdasarkan standar nasional, kapasitas penanganan yang hanya sekitar 250 ton per hari menunjukkan adanya kesenjangan sistemik yang perlu segera dibenahi.

Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Subang mengacu pada perhitungan 0,4 kilogram sampah per orang per hari. Jika dikalikan jumlah penduduk, angka tersebut menempatkan Subang dalam kategori perkotaan menengah dengan beban produksi sampah yang signifikan. Namun secara operasional, keterbatasan armada membuat sebagian besar sampah belum tertangani optimal.

Dari 24 unit armada yang dimiliki DLH, hanya sekitar 19–20 kendaraan yang dapat beroperasi. Dengan jarak tempuh sekitar 75 kilometer pulang-pergi menuju TPA Jalupang, efektivitas pengangkutan semakin terhambat. Kondisi jalan tanah menuju TPA yang berlumpur saat musim hujan turut memperlambat ritme distribusi.

Sistem Pengelolaan Yang Sampah Yang Masih Jadi Kendala
Sistem Pengelolaan Yang Sampah Yang Masih Jadi Kendala

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah di Subang bukan semata soal volume, melainkan juga soal infrastruktur, efisiensi sistem, dan pengelolaan berbasis sumber. Ketergantungan pada pengangkutan ke TPA tanpa pengurangan signifikan dari hulu berpotensi memperbesar beban lingkungan dalam jangka panjang.

Kesenjangan antara produksi dan kapasitas angkut mengindikasikan perlunya strategi komprehensif, mulai dari penguatan bank sampah, optimalisasi TPS 3R, pemilahan di tingkat rumah tangga, hingga peningkatan armada dan akses jalan menuju TPA. Tanpa langkah terintegrasi, pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi berpotensi mempercepat akumulasi sampah yang tidak tertangani.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah mendesak bagi Pemerintah Kabupaten Subang untuk memastikan pengelolaan sampah tidak hanya reaktif, tetapi bertransformasi menjadi sistem yang berkelanjutan dan adaptif terhadap dinamika wilayah. (Redaksi : klikduakali-IN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × two =