Klikduakali.id – Startup asal Kabupaten Subang, PT Sumrize Teknologi Cerdas, mulai menjajaki peluang untuk masuk ke pasar modal. Hal itu mencuat setelah perusahaan mendapat undangan dari Indonesia Stock Exchange (IDX) guna membahas pengembangan bisnis dan peluang Initial Public Offering (IPO).
Bertempat di kantor IDX Jakarta, Rabu (9/9/2026), pertemuan tersebut dihadiri perwakilan PT Sumrize Teknologi Cerdas, yakni Direktur Utama Alfyan Angga Saputra dan Komisaris Utama Niko Rinaldo.
Pada kesempatan tersebut, manajemen Sumrize memaparkan perjalanan perusahaan, mulai dari profil dan perkembangan bisnis hingga visi serta arah pengembangan yang akan ditempuh dalam beberapa tahun ke depan.
Tak hanya membahas pengembangan perusahaan, pertemuan tersebut juga mengulas mekanisme pasar modal dan proses menuju IPO, termasuk berbagai tahapan yang harus dipersiapkan perusahaan. Sumrize turut mendapat pemaparan mengenai IDX Incubator dan Papan Akselerasi.
Ketertarikan IDX terhadap Sumrize bukan tanpa proses. Alan Fatih dari Direktorat Penilaian Perusahaan, Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat IDX, menyebut pihaknya telah mempelajari perusahaan tersebut selama beberapa bulan.
“Kami mengkurasi proses ini. Kita tidak sembarangan mengundang. Saya melihat Sumrize sangat potensial,” ujar Alan.
Alan mengatakan, hasil proses tersebut mendorong IDX untuk membuka komunikasi dan memberikan pendampingan kepada Sumrize agar perusahaan dapat berkembang serta mempersiapkan diri menuju IPO.
“Kami mempelajari Sumrize secara intensif beberapa bulan ini, sehingga ada ketertarikan untuk mengundang dan mendampingi Sumrize hingga IPO,” katanya.
Pertemuan dengan IDX memberikan perspektif baru bagi Sumrize mengenai peluang dan mekanisme pasar modal. Hal itu disampaikan Direktur Utama Sumrize Alfyan Angga Saputra.

Alfyan mengatakan, selama ini IPO kerap dipandang sebagai langkah yang hanya bisa dilakukan oleh perusahaan dengan aset dan skala bisnis besar.
“Saya baru tahu IPO seperti ini. Selama ini kami merasa IPO hanya khusus bagi perusahaan yang memiliki aset triliunan,” ujarnya.
Menurut Alfyan, kondisi tech winter membuat perusahaan teknologi perlu membuka peluang pendanaan yang lebih beragam. IPO pun mulai dipandang sebagai salah satu opsi yang layak dipelajari selain mengandalkan venture capital.
“IPO menjadi mimpi bagi sebagian besar pengusaha. Tapi ternyata di zaman tech winter ini, IPO bisa menjadi salah satu opsi,” katanya.
Sumrize belum menargetkan pelaksanaan IPO dalam waktu dekat meski telah membuka peluang menuju pasar modal. Persiapan dilakukan sejak dini untuk memperkuat fondasi perusahaan apabila IPO menjadi pilihan di masa mendatang.
Menurut Niko Rinaldo, langkah Sumrize menjajaki pasar modal tidak cukup hanya dengan mempersiapkan aspek bisnis. Perusahaan juga perlu memperkuat tata kelola sebagai bagian dari kesiapan menuju IPO.
“Kami merasa bangga Sumrize diundang ke IDX. Kami dari Subang, tapi serius dalam berbisnis,” ujar Niko.
Ia menilai, penerapan Good Corporate Governance (GCG) sejak tahap awal menjadi penting agar pertumbuhan bisnis Sumrize tetap dibangun di atas profesionalisme dan tata kelola perusahaan yang baik.
“Kami ingin menerapkan GCG dengan baik, sehingga Sumrize bisa menjadi salah satu percontohan di Subang,” katanya.
Menurut Alfyan, Sumrize ingin memastikan seluruh persyaratan dan fondasi perusahaan telah dipersiapkan apabila IPO dipilih sebagai langkah terbaik dalam beberapa tahun ke depan.
“Kalau beberapa tahun ke depan IPO menjadi pilihan terbaik untuk Sumrize, kami ingin sudah siap. Jadi bukan baru mulai mempersiapkan ketika sudah mau IPO,” ujarnya.
Persiapan menuju opsi IPO dilakukan dengan memperkuat sejumlah aspek penting, mulai dari fundamental bisnis dan tata kelola hingga organisasi serta pertumbuhan usaha.
Pertemuan tersebut menjadi pijakan awal bagi Sumrize untuk mengenal lebih jauh standar pasar modal. Di sisi lain, komunikasi dengan IDX membuka peluang baru bagi pengembangan startup teknologi asal Subang tersebut. (Redaksi : klikduakali-TH)





