Klikduakali.id – Program pembibitan tebu nasional yang berjalan di Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, ramai diperbincangkan publik. Sorotan tersebut muncul seiring beredarnya informasi mengenai alih fungsi sebagian lahan nanas menjadi area pembibitan tebu yang dinilai belum disertai sosialisasi yang memadai.
Pelaksanaan program tersebut merupakan bagian dari kerja sama operasional antara PT Berkah Monara Nusantara (BMN) selaku pemegang hak pengelolaan lahan bersama PTPN dengan CV Karya Amelia yang berperan sebagai pelaksana teknis program.
Sebagai pelaksana teknis, CV Karya Amelia memanfaatkan lahan kurang lebih 100 hektare untuk pengembangan pembibitan tebu. Hasil pembibitan tersebut selanjutnya akan disalurkan kepada kelompok tani yang telah ditetapkan sebagai penerima program CPCL (Calon Petani Calon Lokasi).
Di tengah tujuan program yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendukung swasembada gula nasional, sejumlah warga mengaku masih kekurangan informasi mengenai pelaksanaannya. Akibatnya, berbagai spekulasi dan diskusi bermunculan di media sosial.
Ulul Fahmi Fauzy, Aktivis Subang, menilai keterbatasan informasi yang disampaikan oleh CV Karya Amelia menjadi faktor utama munculnya berbagai persepsi dan kesalahpahaman publik terhadap program tersebut.
“Kurangnya sosialisasi dari CV Karya Amelia menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai tanggapan di media sosial. Menurut saya tidak cukup hanya memasang dua banner di pinggir Jalan Jalancagak-Kasomalang. Program sebesar ini seharusnya disampaikan secara lebih terbuka kepada masyarakat,” ujar Ulul kepada Pasundan Ekspres, Selasa (9/6/2026).
Lahan Nanas Berubah Jadi Kebun Bibit Tebu, Ini Penjelasannya
Menurutnya, sosialisasi program semestinya dilakukan melalui pertemuan tatap muka dengan berbagai unsur masyarakat. Dengan melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan kelompok tani, pemahaman publik terhadap tujuan dan manfaat program dapat lebih optimal.
“Kalau masyarakat hanya melihat ada lahan nanas yang berubah jadi tebu nasional tanpa penjelasan yang jelas, wajar kalau muncul berbagai asumsi. Sosialisasi itu penting agar warga tidak merasa ditinggalkan dari informasi,” tambahnya.
Seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Subang yang tidak ingin disebutkan identitasnya membenarkan pandangan tersebut. Ia mengakui bahwa sosialisasi yang lebih masif dari pihak pelaksana program diperlukan agar informasi yang diterima masyarakat lebih jelas dan tidak menimbulkan persepsi yang keliru.
Direktur Utama PT Berkah Monara Nusantara (BMN), Indra Irawan, menyatakan bahwa PT BMN memperoleh penugasan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk menyediakan lahan sebagai bagian dari pelaksanaan program strategis nasional yang berfokus pada penguatan ketahanan dan swasembada pangan.
“Lahan Kerja Sama Operasional (KSO) PT BMN seluruhnya seluas 448 hektare. Rinciannya, 113 hektare ditanami teh dan 345 hektare ditanami nanas,” ungkap Indra pada Selasa (9/6/2026).
Ia juga mengatakan sebagian lahan dimanfaatkan untuk kegiatan pembibitan tebu nasional. Program ini ditujukan untuk mendukung peningkatan produksi tebu dan memperkuat ketahanan sektor pertanian. (Redaksi : klikduakali-TH)




