Mimpi Timnas Indonesia ke Piala Dunia Dinilai Semakin Terbuka, Pembinaan Usia Dini Jadi Kunci

Mimpi Timnas Indonesia ke Piala Dunia Dinilai Semakin Terbuka, Pembinaan Usia Dini Jadi Kunci

klikduakali.id – Keberhasilan sejumlah negara nonunggulan menembus putaran final Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa kesempatan tampil di panggung sepak bola terbesar dunia kini semakin terbuka bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Negara-negara seperti Curaçao, Haiti, dan Cape Verde berhasil mengamankan tiket ke Piala Dunia setelah melalui persaingan ketat di babak kualifikasi. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa negara dengan populasi kecil maupun sumber daya terbatas tetap mampu bersaing apabila memiliki sistem pembinaan yang berkelanjutan.

Fenomena itu menjadi perhatian CEO WOSPAC Indonesia, Benhard Sitorus. Menurutnya, perubahan peta persaingan sepak bola dunia menjadi sinyal positif bagi Indonesia untuk mulai membangun fondasi yang lebih kuat melalui pengembangan pemain sejak usia dini.

Ia menilai keberhasilan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk atau besarnya kompetisi domestik, tetapi juga oleh kualitas pembinaan pemain muda yang dilakukan secara terstruktur dan berkesinambungan.

Salah satu langkah yang dijalankan WOSPAC Indonesia adalah membuka kesempatan bagi pemain berusia 13 hingga 14 tahun untuk merasakan atmosfer kompetisi di Spanyol. Program tersebut dirancang agar para pemain tidak hanya mendapatkan latihan, tetapi juga pengalaman bertanding secara rutin di lingkungan sepak bola Eropa.

Menurut Benhard, pengalaman kompetitif sejak usia muda menjadi faktor penting dalam membentuk mental, kemampuan teknis, hingga cara mengambil keputusan di lapangan.

Melalui konsep yang dikenal sebagai “Jembatan Mengantar Mereka Jadi Hebat”, WOSPAC mengombinasikan pendidikan formal, latihan sepak bola, kompetisi, dan pembentukan karakter dalam satu sistem yang saling mendukung.

“Kesempatan harus bertemu dengan momentum. Tugas kami adalah memastikan talenta-talenta muda Indonesia memiliki jalur untuk berkembang tanpa harus mengorbankan pendidikan mereka. Pembinaan yang baik harus berjalan seiring dengan sekolah dan kompetisi,” ujar Benhard.

Baca Juga :  Murid dan BEM SMPIT As-Syifa Boarding School Wanareja Raih Penghargaan pada Malam Anugerah Hardiknas 2026 Kabupaten Subang

Ia juga menyoroti pentingnya memahami regulasi pembinaan pemain di Eropa, termasuk sistem homegrown player, yang memberikan ruang lebih besar bagi pemain yang dibina sejak usia muda dalam suatu kompetisi. Menurutnya, pemahaman terhadap sistem tersebut dapat menjadi bekal penting bagi pemain Indonesia yang ingin berkarier di luar negeri.

WOSPAC Indonesia menilai pembinaan jangka panjang harus menjadi prioritas jika Indonesia ingin memiliki lebih banyak pemain yang mampu bersaing di level internasional. Selain peningkatan kemampuan teknis, para pemain juga dibekali pendidikan formal internasional serta pembentukan karakter sebagai bekal menjalani karier profesional.

Salah satu hasil dari program tersebut mulai terlihat pada 2026 ketika seorang pemain Indonesia berusia 14 tahun mendapat kesempatan bergabung dengan klub lokal Martorell di Spanyol. Penampilannya mendapat apresiasi dari jajaran WOSPAC dan dinilai memiliki potensi berkembang di level yang lebih tinggi.

Benhard berharap semakin banyak talenta muda Indonesia memperoleh kesempatan serupa melalui kolaborasi antara akademi, federasi, pemerintah, dan sektor swasta. Menurutnya, sinergi seluruh pihak menjadi faktor penting untuk membangun ekosistem pembinaan yang mampu mengantarkan Indonesia bersaing di level dunia.

Dengan semakin banyak negara yang mampu mematahkan dominasi kekuatan tradisional sepak bola, peluang Indonesia untuk suatu saat tampil di Piala Dunia dinilai bukan lagi sekadar mimpi, melainkan target yang dapat diwujudkan melalui pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan. (Redaksi : klikduakali-IN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × five =