Klikduakali.id – Persaingan citra kepala daerah kembali memanas setelah survei terbaru menempatkan Pramono Anung sedikit di atas Dedi Mulyadi. Hasil ini cukup mengejutkan, mengingat KDM justru dikenal mendominasi perhatian publik dan meraih kepuasan warga yang sangat tinggi.
Dalam rilis survei sebelumnya, lembaga lain juga menempatkan Ahmad Luthfi sebagai kepala daerah dengan persepsi publik tertinggi. Di sisi lain, Kang Dedi Mulyadi hanya menempati posisi keempat.
Perbedaannya memang tidak jauh, tetapi cukup membuat publik bertanya-tanya: kenapa figur sekuat KDM di tengah masyarakat justru sering tidak tampil sebagai pemenang dalam survei?
Di satu sisi, kepala daerah berkepentingan membangun persepsi positif di mata publik. Di sisi lain, lembaga survei merupakan institusi yang juga bergerak dalam ekosistem bisnis. Persinggungan dua kepentingan ini tak jarang memunculkan pertanyaan mengenai objektivitas.
Perbedaan antara kekuatan lapangan dan hasil survei menunjukkan bahwa fenomena ini tidak bisa dilihat secara matematis semata. Ada variabel lain yang membuat Dedi Mulyadi, meski dikenal dekat dengan warga, kerap tampak tertinggal dalam penilaian survei.
1. Parameter Survei Tidak Selalu Menguntungkan Gaya Populis
Sebagian besar lembaga survei mengukur kinerja berdasarkan indikator formal seperti kebijakan strategis, tata kelola pemerintahan, dan dampak program makro.
Dalam konteks ini, figur seperti Pramono Anung, Ahmad Lutfi cenderung unggul karena posisinya identik dengan kebijakan struktural dan sistemik.
Sementara itu, Dedi Mulyadi kuat di pendekatan kultural dan emosional—hal yang tidak selalu terukur secara kuantitatif dalam survei.
2. Gap Antara Popularitas dan Elektabilitas
Popularitas tinggi tidak otomatis berbanding lurus dengan skor survei.
Dedi dikenal luas dan sering viral, namun:
survei mengukur persepsi “kinerja”, bukan sekadar “kedekatan”
responden bisa menyukai sosoknya, tapi belum tentu menilai kinerjanya paling unggul
Ini menciptakan gap antara “disukai” dan “dipilih”.
3. Metodologi Survei Berskala Nasional
Survei seperti yang dilakukan Muda Bicara ID melibatkan responden lintas daerah.
Artinya basis kuat Dedi di Jawa Barat tidak sepenuhnya terkonversi secara nasional, figur yang punya eksposur kebijakan nasional lebih mudah mendapat pengakuan luas
Dengan kata lain, “lokal kuat” belum tentu “nasional dominan”.
4. Pengaruh Ekosistem Survei dan Citra
Di balik layar, ada realitas yang jarang dibahas yakni lembaga survei, citra politik, dan kebutuhan branding sering berada dalam satu ekosistem.
Kepala daerah butuh legitimasi angka
Lembaga survei butuh eksistensi dan pembiayaan
Penghargaan (award) juga membutuhkan validasi publik
Hubungan ini tidak selalu berarti manipulatif, tetapi bisa memengaruhi narasi yang dibangun.
5. Gaya Anti-Elit Justru Jadi “Bumerang”
Dedi Mulyadi dikenal dengan gaya non-formal blusukan, komunikasi santai, konten langsung ke masyarakat.
Namun gaya ini kadang tidak “terbaca” sebagai indikator kinerja oleh lembaga formal yang lebih menilai output kebijakan dibanding pendekatan sosial.
6. Narasi Media vs Data Survei
Di lapangan dan media sosial, Dedi sering terlihat dominan.
Namun survei bekerja dengan sampling terbatas, pertanyaan terstruktur, waktu pengambilan data tertentu
Akibatnya, momentum viral tidak selalu tercermin dalam hasil survei.
Ternyata Bukan Soal Kalah, Tapi Cara KDM Dinilai
Tipisnya posisi Dedi Mulyadi di bawah pesaing dalam sejumlah survei bukanlah indikator bahwa ia memiliki kinerja yang buruk.
Situasi ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap kepala daerah tidak berdiri di ruang yang sama. Ada kepemimpinan teknokratis-struktural yang unggul dalam ukuran survei, sementara ada kepemimpinan populis-emosional yang lebih hidup dan kuat dalam persepsi masyarakat di lapangan.
Ke depan, yang akan unggul bukan semata sosok yang memiliki kinerja baik atau citra kuat, melainkan mereka yang mampu menyatukan kerja terukur dengan komunikasi yang benar-benar hidup di tengah publik.
Artinya, selama survei belum benar-benar bisa menangkap denyut kedekatan sosial, fenomena “angka di bawah, rasa di atas” yang melekat pada Dedi Mulyadi akan terus berulang. (Redaksi : klikduakali-TH)




