klikduakali.id – Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas) melalui Komando Daerah Udara (Kodau) I menuntaskan pelaksanaan latihan kesiapsiagaan bertajuk Reksa Siaga 2026 yang berlangsung selama empat hari, mulai 8 hingga 11 Juni 2026. Kegiatan tersebut dipusatkan di Lanud Sugiri Sukani, Majalengka, Jawa Barat, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan respons cepat dalam menghadapi berbagai situasi darurat, khususnya bencana alam.
Latihan ini menjadi sarana untuk menguji kesiapan personel, sistem komando, hingga kemampuan operasional seluruh jajaran Kodau I yang memiliki wilayah tanggung jawab sangat luas. Selain melibatkan unsur di lapangan, kegiatan juga terintegrasi dengan berbagai pangkalan udara melalui sistem komunikasi jarak jauh.
Pangkoopsudnas, Minggit Tribowo, mengatakan seluruh rangkaian latihan telah berjalan sesuai rencana dan berhasil dilaksanakan hingga tahap akhir.
“Pada hari ini sudah selesai kita laksanakan rangkaian latihan kesiapsiagaan Kodau I, Raksa Siaga 2026,” ujar Minggit, Jumat (11/6/2026).
Menurutnya, latihan tersebut dirancang untuk memastikan seluruh satuan di bawah Kodau I mampu bergerak cepat dan terkoordinasi ketika menghadapi kondisi darurat. Kesiapan tersebut dinilai penting mengingat wilayah operasional Kodau I mencakup area yang sangat luas, mulai dari Jawa Barat, Sumatra, hingga Kalimantan Tengah.
Ia menegaskan bahwa luasnya wilayah pengawasan dan tanggung jawab tersebut menuntut kesiapan yang tinggi dari seluruh unsur TNI Angkatan Udara, terutama dalam mendukung penanganan bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Dengan wilayah yang sangat luas, tentu tanggung jawabnya tidak mudah. Karena itu kita harus selalu siap, terutama dalam penanggulangan bencana alam,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, Reksa Siaga 2026 mencakup berbagai tahapan latihan, mulai dari perencanaan operasi, asesmen situasi, hingga manuver lapangan. Berbagai alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AU turut dikerahkan untuk mendukung skenario yang disusun.
Sejumlah pesawat seperti CN-295, helikopter, dan pesawat angkut digunakan dalam simulasi distribusi bantuan logistik, mobilisasi personel, serta berbagai operasi kemanusiaan yang lazim dilakukan saat terjadi bencana.
Tidak hanya berfokus pada latihan di lokasi utama, kegiatan juga dilaksanakan secara terintegrasi dengan seluruh lanud di bawah jajaran Kodau I melalui video conference. Langkah ini dilakukan agar setiap pangkalan udara memiliki pemahaman dan kesiapan yang sama dalam merespons keadaan darurat di wilayah masing-masing.
Minggit menambahkan bahwa berbagai pengalaman dalam penanganan bencana sebelumnya, termasuk yang pernah terjadi di wilayah Sumatra, menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajaran untuk memperkuat kemampuan quick response TNI AU di masa mendatang.
“Tidak hanya bantuan sosial, tetapi juga penanggulangan bencana itu sendiri kita lakukan secara nyata,” ujarnya.
Selain peningkatan kemampuan personel, Koopsudnas juga menyoroti pentingnya pemanfaatan fasilitas pendukung yang tersedia. Salah satunya adalah optimalisasi peran Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dan Lanud Sugiri Sukani sebagai pangkalan aju dalam operasi kemanusiaan maupun kebencanaan.
Menurut Minggit, fasilitas yang ada, termasuk pangkalan dengan kapasitas lebih kecil, dapat dimaksimalkan untuk mendukung mobilisasi bantuan dan mempercepat penanganan korban saat terjadi bencana.
Ke depan, Koopsudnas berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama lintas sektor, baik dengan pemerintah daerah, instansi terkait, maupun berbagai komponen sipil lainnya. Sinergi tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan respons yang cepat, tepat, dan efektif ketika menghadapi situasi darurat.
“Kolaborasi ini sangat penting agar ketika terjadi bencana, kita bisa bahu-membahu memberikan respons yang cepat dan efektif,” pungkasnya.
(Redaksi : klikduakali – SA)




