klikduakali.id — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar energi global. Konflik yang terjadi di sekitar jalur strategis Selat Hormuz dan Laut Merah mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia dan berpotensi memberikan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia.
Salah satu BBM yang berpotensi terdampak adalah Pertamax. Kenaikan harga minyak mentah dunia dapat meningkatkan biaya pengadaan energi, sehingga ruang untuk mempertahankan harga BBM non-subsidi pada level saat ini menjadi semakin terbatas.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengatakan harga minyak dunia masih menunjukkan tren tinggi dan belum terlihat indikasi penurunan yang signifikan. Situasi tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian pasokan energi akibat konflik geopolitik yang melibatkan sejumlah pihak di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak mentah bahkan sempat menyentuh level US$108 per barel pada perdagangan Kamis. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa gejolak geopolitik masih memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan harga komoditas energi dunia.
“Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun US$70 per barel atau US$60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera,” ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).
Menurut Eko, apabila harga minyak global terus berada pada level tinggi, penyesuaian harga BBM non-subsidi menjadi salah satu kemungkinan yang harus diperhitungkan. Selain konflik, kondisi pasar juga dipengaruhi oleh gangguan pasokan serta meningkatnya aktivitas pembelian komoditas energi oleh para pelaku pasar.
“Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” kata Eko.
Kenaikan harga minyak dunia tersebut menunjukkan bahwa harga BBM non-subsidi di dalam negeri sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar energi internasional. Jika tekanan terhadap harga minyak berlanjut, masyarakat pengguna BBM non-subsidi perlu mengantisipasi kemungkinan adanya perubahan harga.
Meski demikian, besaran dan waktu penyesuaian harga BBM tetap bergantung pada perkembangan harga minyak dunia serta kebijakan yang diterapkan oleh masing-masing badan usaha penyedia BBM. (Redaksi : klikduakali-IN)





