Klikduakali.id – Meski tren kuliner viral terus bermunculan dan ramai diminati wisatawan di Bandung, Kolak Bu Mimin di Jalan Kalipah Apo tetap mempertahankan eksistensinya melalui sajian sederhana yang konsisten sejak lama.
Di pinggir Jalan Kalipah Apo, sebuah gerobak kaca sederhana tampak tak pernah sepi pembeli. Tulisan “Ibu Mimin” dan “Kolek Campur Kalipah Apo” yang terpampang di depannya menjadi penanda kuliner legendaris tersebut.
Suasana di dalam gerobak terlihat tertata rapi dengan deretan panci berisi kolak. Selain melayani pembeli langsung, tersedia pula kolak dalam kemasan plastik yang siap dibawa pulang.
Kesederhanaan menjadi ciri khas tempat berjualan tersebut. Gerobak yang berdiri di tepi trotoar itu hanya menggunakan atap terpal sederhana tanpa tambahan dekorasi khusus untuk menarik perhatian pelanggan.
Berlokasi di ujung Jalan Kalipah Apo, Kolak Bu Mimin dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris yang telah melayani pelanggan sejak 1994.

Kuliner legendaris tersebut bermula dari usaha yang dirintis oleh Popon pada awal 1990-an. Seiring waktu, usaha itu diwariskan dalam keluarga dan kini diteruskan oleh Bu Mimin, adik Popon, sebagai generasi kedua pengelola usaha.
Keberadaan berbagai kuliner modern tidak menggeser popularitas kolak ini, yang hingga kini masih menjadi pilihan pelanggan lama maupun pengunjung baru.
“Orang tua saya sudah meninggal, dan sekarang usaha ini diteruskan oleh kakak saya,” ujar anak dari Mimin, Adam Smith, saat ditemui di lokasi, Jumat (15/5/2026).
Aktivitas penjualan di gerobak kolak ini berlangsung cukup ramai setiap harinya. Memasuki waktu sore, persediaan kolak di dalam panci tampak semakin menipis seiring banyaknya pembeli yang datang.
“Dalam satu hari saya mampu menjual sekitar 150 hingga 200 bungkus,” ucap Adam.
Adam mengatakan bahwa konsistensi dalam menjaga kualitas bahan baku dan cita rasa menjadi faktor utama yang membuat kolak ini mampu bertahan di tengah persaingan kuliner modern.
Konsistensi penggunaan gula asli menjadi salah satu ciri khas kolak ini, sehingga menghasilkan rasa manis yang lebih alami dan berbeda dari kebanyakan sajian serupa.
Selain rasa manis dari gula asli, penggunaan santan juga menjadi elemen penting yang menghadirkan sensasi gurih seimbang dalam setiap sajian kolak.
“Rasanya tetap dijaga dari dulu, pakai gula asli, jadi beda. Pembeli juga sudah tahu rasanya seperti apa,” katanya.
Variasi menu yang cukup banyak menjadi salah satu daya tarik kolak ini, karena pelanggan dapat menyesuaikan pilihan sesuai selera masing-masing.
Variasi menu yang ditawarkan cukup beragam, mencakup kolak pisang dan ubi sebagai pilihan klasik, serta hanjeli, candil, dan mutiara yang kenyal. Selain itu, pelanggan juga dapat menikmati bubur lemu dengan warna hijau alami.
“Kalau yang hijau itu bukan pewarna, tapi dari daun suji sama pandan asli,” jelasnya.
Tak hanya soal rasa, harga yang bersahabat juga menjadi alasan kolak ini tetap diminati. Di tengah kenaikan harga bahan pokok, Kolak Bu Mimin tetap menjaga harga agar tetap ramah di kantong pelanggan.
Dari sisi harga, kolak ini dibanderol Rp13 ribu untuk satu bungkus, sementara untuk kemasan cup dijual sedikit lebih tinggi yakni Rp14 ribu.
Selain cita rasa dan harga yang terjangkau, pelayanan yang ramah serta sopan kepada pelanggan menjadi faktor penting yang membuat usaha kolak ini tetap bertahan dan ramai hingga sekarang.
Interaksi hangat terlihat di lokasi usaha, di mana Adam sering menyapa pengunjung dengan ramah, sementara pelanggan yang kerap datang tampak akrab dan sesekali berbincang dengannya.
Kolak Bu Mimin melayani pelanggan setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Lokasinya yang berada di tepi jalan membuat usaha kuliner ini mudah diakses oleh pengunjung. (Redaksi : klikduakali-TH)




