Klikduakali.id – Menjelang Idul Adha 1447 Hijriah, penjualan sapi kurban di Kabupaten Subang dilaporkan menurun. Lonjakan harga sapi serta menurunnya kemampuan beli masyarakat menjadi faktor utama lesunya penjualan tahun ini.
Menurut peternak sapi asal Desa Sagalaherang Kidul, Kecamatan Sagalaherang, Endang Setiawan, harga sapi mengalami kenaikan karena stok ternak menurun setelah terdampak wabah PMK pada 2024.
“Sekarang ekonomi melemah karena harga sapi mahal di peternak. Imbas PMK membuat stok sapi kurban berkurang dan harga terus naik,” ujarnya saat ditemui di kandangnya di Kampung Cieunteung, Sabtu (9/5/2026).
Penjualan Hewan Kurban Menurun Tajam Akibat Harga Sapi Naik
Ia mengatakan penjualan sapi kurban pada tahun ini mengalami penurunan signifikan dibanding tahun lalu. Pada Idul Adha sebelumnya, dirinya berhasil menjual 117 ekor sapi, sementara tahun ini penjualan jauh lebih rendah.
“Sekarang menjual 60 ekor saja agak ngos-ngosan, susah dan sepi,” katanya.
Meski kondisi penjualan tidak seramai tahun lalu, Endang tetap bersyukur karena pesanan sapi kurban hingga awal Mei telah mencapai lebih dari 40 ekor dari sejumlah wilayah di sekitar Subang.
Menurutnya, harga sapi mengalami kenaikan cukup signifikan. Dari yang sebelumnya sekitar Rp20 juta, kini mencapai Rp24 juta sampai Rp25 juta per ekor. Kenaikan harga sapi dipicu sejumlah faktor, mulai dari tingginya harga pakan ternak, biaya operasional, hingga terbatasnya stok sapi menjelang hari raya kurban.
“Konsentrat naik hampir 40 persen. Jadi semuanya ikut naik, mulai dari pakan sampai biaya operasional,” jelasnya.
Selain faktor pakan dan stok, pelemahan rupiah turut menyebabkan harga sapi bakalan impor asal Australia untuk penggemukan menjadi lebih tinggi. Menurut Endang, kesehatan sapi di kandangnya tetap terjaga berkat pemeriksaan rutin yang dilakukan petugas Dinas Peternakan meski harga ternak meningkat.
“Alhamdulillah kesehatan sapi terjamin karena rutin dicek dinas peternakan,” ungkapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan kurban, Endang menyiapkan sekitar 60 ekor sapi berbagai jenis, seperti limosin, simental, sapi lokal, dan FH persilangan Australia. Untuk membantu peternak, ia meminta pemerintah memberikan subsidi pakan serta membuat kebijakan pengendalian harga bahan penunjang peternakan.
“Kami berharap ada subsidi dari pemerintah supaya peternak tidak terlalu berat karena sekarang semua mahal,” pungkasnya. (Redaksi : klikduakali-TH)




