Klikduakali.id – Rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang membahas situasi Iran gagal diadopsi meski mendapat dukungan mayoritas anggota. Kegagalan itu terjadi setelah China dan Russia menggunakan hak veto untuk menolak pengesahan resolusi tersebut.
Kabar mengenai gagalnya resolusi tersebut dikutip dari kanal YouTube Kompascom Reporter on Location yang membahas perkembangan terbaru situasi geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Scott Bessent, veto yang dilakukan China dan Russia menjadi penghambat bagi Dewan Keamanan PBB dalam mengambil langkah responsif terhadap situasi di Timur Tengah. Ia juga menilai hal itu mencerminkan perbedaan kepentingan geopolitik di tingkat global.
China-Rusia Tolak Resolusi Iran, Ini Alasannya
Sebelumnya, rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB disusun untuk menyoroti tindakan Iran yang dianggap mengancam stabilitas pelayaran internasional di Selat Hormuz. Dokumen itu juga menyerukan koordinasi internasional guna menjaga keamanan jalur laut vital tersebut.
Penolakan China dan Russia didasarkan pada penilaian bahwa isi resolusi dianggap tidak komprehensif. Fu Cong menyatakan rancangan tersebut gagal memuat gambaran utuh mengenai penyebab utama ketegangan di kawasan.
China berpandangan bahwa rancangan resolusi tidak memberikan gambaran utuh mengenai akar konflik karena hanya menitikberatkan pada tindakan Iran. Russia juga menilai dokumen tersebut bersifat tidak seimbang dan mendorong solusi diplomatik yang mempertimbangkan seluruh pihak yang terlibat dalam ketegangan kawasan.
Dampak Kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran
Kebijakan Washington terhadap Iran masih mengacu pada strategi tekanan maksimum yang diberlakukan setelah Amerika Serikat keluar dari JCPOA pada Mei 2018. Sejak saat itu, AS kembali memberlakukan sanksi luas terhadap sektor ekonomi dan energi Iran sebagai bagian dari upaya menekan program nuklir Teheran.
Pemberlakuan kembali sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat memperburuk hubungan bilateral dengan Iran dan menekan sektor energi negara tersebut. Pembatasan pada ekspor minyak, sektor perbankan, dan investasi energi menyebabkan pengaruh signifikan terhadap stabilitas pasar energi global serta harga minyak dunia.
Ketegangan Dunia dan Sikap Strategis China
Keputusan China untuk terus mengimpor minyak Iran meski berada di bawah sanksi Amerika Serikat menjadi salah satu sumber ketegangan baru dalam hubungan kedua negara. Washington menilai langkah tersebut melemahkan efektivitas tekanan ekonomi terhadap Teheran, sementara Beijing menegaskan kebijakan energi dilakukan demi kepentingan nasionalnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan sikap Beijing yang menolak penerapan sanksi sepihak. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak memiliki landasan hukum internasional yang kuat dan dinilai dapat memperburuk ketegangan antarnegara.
Dunia Soroti Ketegangan di Selat Hormuz
Selat Hormuz kini menjadi perhatian global karena perannya yang sangat penting sebagai jalur utama perdagangan energi dunia, terutama untuk distribusi minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah.
Dalam upaya menjaga keamanan jalur energi global, Amerika Serikat menjalankan operasi internasional di sekitar Selat Hormuz. Washington juga mengajak China untuk berpartisipasi dalam pengamanan kawasan guna mengurangi risiko gangguan terhadap lalu lintas pelayaran dan stabilitas pasokan energi internasional.
Tidak lolosnya resolusi PBB mengenai Iran mencerminkan kuatnya tarik-menarik kepentingan antarnegara besar dalam sistem internasional. Mekanisme veto di Dewan Keamanan sering kali menjadi faktor penentu yang membuat resolusi tidak dapat disahkan meskipun mendapat dukungan mayoritas anggota. (Redaksi : klikduakali-TH)




