Encep Sugiana Ajak Kemerdekaan Diterjemahkan dalam Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat

Encep Sugiana Ajak Kemerdekaan Diterjemahkan dalam Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat

klikduakali.id — Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia hendaknya tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengevaluasi sejauh mana kemerdekaan telah memberikan kehidupan yang adil dan sejahtera bagi seluruh masyarakat.

Hal tersebut disampaikan dr. Encep Sugiana, M.H.Kes., Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, saat menyampaikan pandangannya mengenai makna kemerdekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut Encep, kemerdekaan yang diperoleh Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan titik awal perjuangan baru. Setelah terbebas dari penjajahan, tugas generasi berikutnya adalah memastikan masyarakat benar-benar terbebas dari berbagai persoalan yang dapat menghambat mereka menjalani kehidupan secara bermartabat.

“Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kemerdekaan itu bisa dimaknai sebagai terbebasnya bangsa dari belenggu kehidupan yang membuat manusia tidak bebas,” ujar Encep.

Ia menjelaskan, ukuran keberhasilan kemerdekaan tidak hanya dapat dilihat dari aspek kedaulatan negara, tetapi juga dari kondisi kehidupan masyarakat. Rakyat harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan, perlindungan hukum, serta kehidupan yang layak.

Bagi Encep, kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila masih terdapat masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar atau menghadapi ketidakadilan karena kondisi sosial dan ekonominya.

“Tidak ada lagi masyarakat yang dibelenggu oleh kemiskinan, kebodohan, tekanan-tekanan sosial, maupun kesulitan dalam mencari nafkah. Kalau itu masih terjadi, berarti perjuangan kita untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya masih belum selesai,” tegasnya.

Keadilan Harus Dirasakan Semua Kalangan

Encep menilai keadilan menjadi salah satu fondasi penting dalam mengisi kemerdekaan. Negara harus memastikan setiap warga memperoleh hak yang sama tanpa melihat latar belakang, status sosial maupun kedudukannya.

 

Ia menekankan bahwa prinsip kesetaraan tersebut harus terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam pelayanan publik dan penegakan hukum.

“Tidak ada lagi diskriminasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari aspek hukum misalnya, tidak boleh ada tebang pilih. Keadilan harus betul-betul dirasakan oleh seluruh masyarakat,” katanya.

Menurutnya, pembangunan juga harus diarahkan untuk memperkecil kesenjangan. Masyarakat di berbagai lapisan harus memperoleh akses yang memadai terhadap pendidikan, kesehatan dan kesempatan ekonomi.

Baca Juga :  Kantongi Investasi Rp296,8 Triliun, Pemprov Jabar Gaspol Bereskan Tambang Ilegal dan Sampah

Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, tetapi menjadi pengalaman bersama seluruh rakyat Indonesia.

Menjaga Kedaulatan di Tengah Dunia yang Saling Terhubung

Encep juga menyoroti dimensi kedaulatan sebagai bagian penting dari kemerdekaan. Indonesia harus memiliki kemampuan menentukan kepentingan dan arah pembangunan nasional berdasarkan kepentingan rakyat.

“Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang tidak diintervensi oleh bangsa-bangsa lain,” ujarnya.

Namun, menurutnya, kedaulatan tidak berarti Indonesia harus menutup diri dari dunia internasional. Di tengah hubungan global yang semakin erat, kerja sama antarnegara tetap dibutuhkan selama dibangun atas dasar kesetaraan dan kepentingan bersama.

“Tidak dalam konteks kita harus berdiri sendiri. Kita pasti punya ketergantungan kepada bangsa lain. Tetapi hubungan itu dilakukan dalam konteks kerja sama dan kehidupan politik luar negeri yang bebas aktif,” katanya.

Ia berharap Indonesia mampu menghindari berbagai bentuk penjajahan dalam wajah baru, khususnya yang dapat melemahkan kemandirian ekonomi, sosial maupun budaya bangsa.

Kerja sama internasional, lanjutnya, harus diarahkan menjadi kolaborasi yang memperkuat kapasitas bangsa sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat.

“Yang terjadi adalah kolaborasi antara satu bangsa dengan bangsa yang lain dalam rangka memajukan bangsa dan negara yang kita cintai ini,” pungkas Encep.

Bagi Encep, memasuki usia 81 tahun kemerdekaan, pekerjaan rumah bangsa Indonesia bukan lagi merebut kemerdekaan dari penjajah, melainkan memastikan kemerdekaan tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan harus menjelma menjadi keadilan, kesejahteraan, kesempatan yang setara, serta kehidupan yang bermartabat bagi seluruh rakyat. (Redaksi : klikduakali-IN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × three =