klikduakali.id – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah pada akhir November 2025 menyisakan duka mendalam. Sejumlah kampung hilang tersapu arus dan longsoran tanah, memaksa warga meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Kini, para penyintas dari berbagai kampung terdampak bertahan di camp pengungsian yang berlokasi di Desa Delung Sekinel. Kawasan ini berubah menjadi “kompleks baru” tempat warga menjalani seluruh aktivitas harian, mulai dari memasak, belajar, hingga beribadah.
Unggahan akun Instagram publik figur Adhin Abdul Hakim memperlihatkan situasi camp yang penuh keterbatasan namun tetap hidup dengan semangat kebersamaan.
“Ini camp pengungsian dari berbagai kampung-kampung yang hanyut, yang hilang. Jadi, aktivitas warga semuanya ada di sini,” ujar Adhin dalam video yang dikutip Jumat, 20 Februari 2026.
Di lokasi pengungsian telah berdiri tenda dapur umum, sekolah darurat, serta masjid darurat untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. Meski demikian, kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri. Camp berada di sebuah lembah, sementara desa-desa asal warga kini telah hilang di balik perbukitan akibat terjangan banjir dan longsor.
“Desa-desanya sebenarnya di bawah sana, di bawah perbukitan itu sudah hilang tersapu semuanya,” kata Adhin.
Akses menuju lokasi yang sulit dijangkau turut berdampak pada distribusi logistik. Pasokan bahan pokok terbatas, bahkan harga sebutir telur sempat melonjak hingga Rp15.000.
Krisis air bersih menjadi persoalan paling mendesak. Para ibu mengandalkan dapur umum untuk kebutuhan memasak, sementara warga laki-laki bergotong royong membangun pipanisasi sederhana agar air dapat mengalir ke seluruh area camp.
“Ini bapak-bapak masih ngerjain pipanisasi untuk penyaluran air, pokoknya semua di sini kita kerjakan apa yang masih bisa diusahakan,” ujarnya.
Camp pengungsian Desa Delung Sekinel tidak hanya menjadi tempat bertahan hidup, tetapi juga simbol ketangguhan dan solidaritas masyarakat pascabencana. Di tengah keterisolasian dan keterbatasan logistik, warga membangun kembali kehidupan mereka secara kolektif, sembari menanti dukungan yang lebih memadai untuk keberlangsungan hidup ke depan. (Redaksi : klikduakali-IN)












