klikduakali.id – Ngabuburit di Kampung Adat Banceuy, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, berubah menjadi panggung budaya yang hidup dan penuh makna. Ratusan warga memadati lokasi untuk menyaksikan pagelaran seni yang digagas Seniman Sunda Bangkit (SSB), menghadirkan nuansa Ramadan yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat nilai tradisi, Minggu (15/03)
Mengusung tema “Ngamumule Budaya, Ngaraketkeun Baraya”, kegiatan ini menjadi ruang temu antara seni, budaya, dan kebersamaan masyarakat. Ketua SSB, H. Oni Suwarman, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menghidupkan kembali kecintaan terhadap budaya Sunda sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
“Budaya bukan hanya untuk ditampilkan, tetapi harus dirawat dan diwariskan agar tetap hidup di tengah generasi sekarang,” ujarnya.
Sejak awal acara, warga disuguhkan pertunjukan Toleat khas Subang yang langsung mencuri perhatian. Alunan musik tradisional berpadu dengan suara merdu sinden Yani yang membawakan lagu “Jayanti”, menghadirkan suasana syahdu sekaligus memperkenalkan kekayaan seni daerah kepada generasi muda.

Tidak hanya hiburan, pagelaran ini juga menghadirkan nilai kearifan lokal melalui tradisi Mandi Koneng dan Nadran. Kedua tradisi tersebut menggambarkan makna penyucian diri serta rasa syukur kepada alam, yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Sunda.
Suasana semakin hidup dengan kehadiran para seniman dan pelawak seperti Ki Daus, Kang Aep Bancet, dan Ceu Popon yang membawakan hiburan dengan gaya khas, memadukan seni dan humor yang mengundang tawa.
Perwakilan SSB, Ogi SOS, menegaskan bahwa seni budaya Sunda harus terus dijaga sebagai identitas masyarakat. “Seni bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga menjadi kekuatan masa depan jika terus dirawat,” katanya.
Dukungan terhadap pelestarian budaya juga datang dari berbagai pihak. Kepala Desa Sanca, Masna, berharap Kampung Adat Banceuy dapat berkembang menjadi pusat kegiatan seni. Sementara itu, perwakilan AQUA, Firman Surya Kusuma, menilai kegiatan ini sebagai bentuk nyata kolaborasi antara masyarakat dan sektor swasta dalam menjaga budaya tetap relevan. Dalam kesempatan tersebut, AQUA juga memberikan santunan kepada 80 anak yatim dan jompo.
Meski hujan sempat turun, semangat warga tidak surut. Pertunjukan Gembyung dengan lagu-lagu Buhun Sunda yang hampir punah tetap dinikmati dengan penuh antusias. Penampilan tari Break-pong Leungiteun yang mengangkat isu lingkungan juga menjadi daya tarik tersendiri.
Kemeriahan semakin terasa saat penyanyi dangdut asal Subang, Novia Rozma, tampil menghibur. Lagu-lagu yang dibawakannya sukses mengajak warga bernyanyi dan berjoget bersama, menciptakan suasana yang hangat dan akrab.
Menjelang waktu berbuka, acara ditutup dengan ceramah bodor yang mengundang tawa, sebelum akhirnya seluruh warga berkumpul dalam tradisi ngaliwet bareng. Hidangan yang dimasak bersama oleh warga dari tujuh RT menjadi simbol kuatnya kebersamaan dan gotong royong.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa ngabuburit tidak hanya sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga bisa menjadi ruang pelestarian budaya, mempererat silaturahmi, dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal di tengah masyarakat. (Redaksi : klikduakali-IN)












