Dari Bandung untuk Indonesia, Mezza Can Wait Rilis “2 Levitate” di Platform Digital

Dari Bandung untuk Indonesia, Mezza Can Wait Rilis “2 Levitate” di Platform Digital

klikduakali.id – Proses ‘kehilangan’ sering kali menyebabkan disrupsi dalam kehidupan individu dan kelompok: mengakibatkan terhentinya aktivitas secara temporer atau bahkan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Kehilangan juga dapat memicu serangkaian reaksi emosional dan kognitif yang mengubah pola hidup sehari-hari. Individu yang mengalaminya seringkali terpapar pada fase berduka yang mempengaruhi kesejahteraan mental dan fisik mereka.

Penurunan motivasi, gangguan tidur, serta kesulitan dalam berkonsentrasi adalah beberapa manifestasi umum yang dapat terjadi. Selain itu, dampak dari kehilangan tidak hanya terbatas pada individu, tetapi juga dapat merambat ke sistem sosial yang lebih luas, seperti keluarga atau komunitas, mempengaruhi dinamika hubungan interpersonal dan pola interaksi sosial.

Keluar dari fase kehilangan memang bisa sangat sulit. Ia kerap menjadi ruang yang berat untuk dilalui, namun juga menuntut seseorang atau kelompok untuk tidak sekadar bertahan, melainkan berani keluar dan mencari jalan pemulihan.

Mezza Can Wait hadir dari konflik batin tersebut. Lusi Mersiana (vokal) dan Rika Faizal Rezza (instumentasi)—yang lebih dikenal sebagai Ezza Rush—membangun proyek musikal ini sebagai salah satu bentuk proses penyembuhan dari pengalaman kehilangan.

Sebagai kelanjutan dari proses tersebut, duo yang terbentuk di Bandung pada 2024 ini kemudian melepas EP bertajuk 2 Levitate, yang kini telah melayang di berbagai platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music sejak Sabtu, 14 Februari 2026.

2 Levitate sendiri menjadi ruang kisah bagi dua personel Mezza Can Wait dalam menghadapi dan memaknai kehilangan—sebuah proses jatuh, pasrah, namun tetap manis. Narasi itu hadir melalui empat nomor lagu, yakni “We Fly”, “Binar”, “Terang”, dan “Hening”.

Lusi Mersiana, selaku perajut lirik, mengungkapkan bahwa EP ini menjadi cara bagi mereka untuk berdamai dengan kehilangan yang dirasakan dan harus dilalui. Uci—panggilan Lusi Mersiana, kehilangan Ayah, sementara di sisi lain Ezza Rush juga berusaha berserah dengan kepergian Ibu yang melahirkannya.

“Rasa kehilangan bisa memunculkan berbagai emosi—sedih, marah, bingung, atau bahkan merasa kosong. Jangan menahan perasaan ini. Menangis, merasa kesal, atau bahkan merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan itu normal. Ini adalah bagian dari proses penyembuhan. Dan proses penyembuhan selanjutnya yang aku lakukan adalah dengan menulis dan bernyanyi,” kata Uci yang juga dikenal sebagai vokalis dari grup elektronik pop legendaris, Kubik.

Penerimaan, lanjut Uci adalah langkah besar dalam proses penyembuhan. “Ini bukan berarti melupakan apa yang telah hilang, tetapi lebih pada menerima kenyataan bahwa ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani. Dan ‘2 Levitate’ adalah upaya kecil itu,” sambungnya.

Secara pemaknaan 2 Levitate berarti melayang atau terangkat ke atas tanpa menyentuh tanah, seolah menentang gravitasi. Dalam konteks ini, Mezza Can Wait berupaya mengangkat diri dari fase kehilangan, proses melepaskan beban duka, atau kondisi transisi: belum sepenuhnya pulih, tapi sudah tidak tenggelam. Dan angka 2 dalam judul merupakan simbolisasi jumlah member band. Singkatnya 2 Levitate merupakan metafora proses berdamai—tidak menghapus kehilangan, tapi belajar melayang di atasnya.

Adapun narasi tersebut dibungkus secara musikal dengan pergerakan bunyi di atas fondasi dentum elektronik yang berdetak konstan seperti nadi yang dipeluk erat oleh sensibilitas pop yang kental. Tema gitar hadir manis, kokoh, dan berulang, seperti pikiran yang terus kembali pada ingatan yang sama, sementara beat yang kuat menjaga langkah agar tetap melaju.

Di antara repetisi dan dentuman itu, lagu-lagu di EP ini terasa seperti upaya untuk tetap berdiri—atau melayang—di tengah emosi yang belum sepenuhnya reda dan tentu saja memiliki kemampuan hebat menggerakan lantai dansa bagi siapa saja yang berkesempatan mendengarnya.

Secara teknis EP 2 Levitate sepenuhnya dikerjakan di Bandung dalam rentang akhir 2024 hingga pertengahan 2025. Seluruh instrumentasi digarap oleh Ezza Rush di kediamannya, sementara Lusi Mersiana merekam vokal di salah satu ruang estetik rumahnya, Deluciva’s Kitchen. Proses akhir audio—mulai dari mixing hingga mastering—juga ditangani langsung oleh Ezza Rush.

Sebagai penopang visual karya, Mezza Can Wait menunjuk ilustrator Reza Nurzeha untuk menggarap artwork/sampul yang sarat makna: sebuah potret ilustratif yang tampil anggun sekaligus merepresentasikan persona dan semesta EP 2 Levitate.

——————————————————————————————————————-

Dari Bandung untuk Indonesia, Mezza Can Wait Rilis “2 Levitate” di Platform Digital
Mezza Can Wait ini digawangi oleh Lusi Mersiana (vokal) dan Ezza Rush (gitar, bass, synthesizer, drum)

Mezza Can Wait adalah unit elektronik pop bentukan dua musisi asal Bandung yang telah lama malang-melintang di kancah musik independen kota tersebut. Duo ini digawangi oleh Lusi Mersiana (vokal)—akrab disapa Uci—dan Ezza Rush (gitar, bass, synthesizer, drum).

Proyek ini terbentuk pada 2024, berawal dari hubungan pertemanan yang terjalin baik di antara keduanya. Di luar kedekatan personal, Uci dan Ezza kerap berbagi gagasan musikal dan berada pada frekuensi yang sama dalam ketertarikan terhadap musik elektronik.

Pada satu masa, keduanya keranjingan bertukar materi musik. Uci sempat berniat menggarap proyek solo dengan bantuan tangan dingin Ezza. Namun arah itu berubah ketika mereka harus berhadapan dengan fase kehilangan yang berat. Dari titik inilah, Uci mengalihkan kemudi proyek solonya menjadi sebuah proyek bersama. Dalam situasi kirim-mengirim file—dan tunggu-menunggu yang menyertainya—Mezza Can Wait kemudian dideklarasikan secara natural sebagai sebuah duo.

Sebagai catatan, Lusi Mersiana adalah seorang musisi, dokter, dan peneliti asal Indonesia. Namanya amat sangat dikenal sebagai vokalis band rock alternatif Kubik, yang ia dirikan bersama rekan-rekannya pada tahun 1995. Kubik dikenal dengan karakter musiknya yang eksperimental dan eklektik, yang memadukan unsur rock, jazz, funk, dan elektronika.

Band ini telah merilis tiga album studio dan meraih berbagai penghargaan, termasuk MTV Indonesia Award untuk kategori Best Alternative Band. Lusi juga bernyanyi bersama TranquilityDNB dan Cigarette Wedding. Selain berkarya di dunia musik, Lusi Mersiana merupakan seorang dokter lulusan pendidikan kedokteran. Ia bekerja sebagai Asisten Peneliti di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, dan telah menerbitkan sejumlah tulisan ilmiah di jurnal-jurnal sains.

Sementara Ezza Rush, yang memiliki nama lengkap Rika Faizal Rezza, adalah seorang musisi asal Indonesia yang dikenal karena fleksibilitasnya dalam berbagai genre musik. Ia merupakan mantan gitaris band Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS), sebuah band post-rock instrumental asal Bandung. Selain kiprahnya bersama UTBBYS, Ezza juga menjalani berbagai proyek musik lainnya, termasuk kolaborasi dengan band-band seperti Pure Saturday, Diocreatura, dan Dinamiklau, yang secara umum mengeksplorasi musik indie, alternatif, dan rock.

Pada tahun 2022, Ezza Rush merambah musik elektronik dengan merilis proyek solonya dalam genre drum and bass melalui single berjudul “Mojo dnb.” Perubahan arah ini sebagian terinspirasi oleh perannya sebagai direktur musik dan komposer di Maximum The Ultimate Organizer, di mana ia kerap terlibat dalam berbagai proyek musik dansa elektronik (EDM).

Ezza Rush terus aktif baik di skena band maupun proyek solonya, serta memberikan kontribusi yang signifikan bagi lanskap musik Indonesia melalui keterampilan musikalnya yang beragam dan eksplorasi kreatif yang ia lakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 1 =