Perubahan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi belakangan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Suhu yang tidak menentu, hujan lebat disertai angin kencang, hingga panas ekstrem berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit jika tidak diantisipasi dengan baik.
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, dr. Encep Sugiana, M.H.Kes, mengingatkan masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi kesehatan di tengah cuaca yang sulit diprediksi. Menurutnya, perubahan iklim dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan memicu munculnya berbagai gangguan kesehatan.
“Cuaca ekstrem dapat menurunkan daya tahan tubuh jika kita tidak menjaga kondisi fisik dan pola hidup sehat. Karena itu, masyarakat perlu lebih waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan,” ujar dr. Encep.
Penyakit yang Rentan Muncul Akibat Cuaca Ekstrem
Dr. Encep menjelaskan bahwa perubahan cuaca dapat memicu berbagai penyakit, baik penyakit infeksi maupun noninfeksi. Pada musim penghujan, risiko penyakit seperti flu, batuk, demam, hingga infeksi saluran pernapasan cenderung meningkat. Lingkungan yang lembap juga menjadi faktor pendukung berkembangnya bakteri dan virus.
Sementara itu, pada musim kemarau dengan suhu tinggi, masyarakat berisiko mengalami dehidrasi, kelelahan, gangguan pernapasan, hingga heat exhaustion. Kondisi ini akan semakin berbahaya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.
“Perubahan cuaca yang ekstrem membuat tubuh harus bekerja lebih keras untuk beradaptasi. Jika daya tahan tubuh lemah, maka penyakit akan lebih mudah menyerang,” jelasnya.
Pola Hidup Sehat sebagai Benteng Pertahanan Tubuh
Menghadapi kondisi tersebut, dr. Encep menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat sebagai benteng utama menjaga kesehatan. Menurutnya, langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan setelah sakit.
Beberapa kebiasaan sehat yang perlu diterapkan di antaranya adalah menjaga pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga, dan mencukupi waktu istirahat. Asupan makanan yang kaya protein, vitamin, dan mineral sangat penting untuk mendukung sistem kekebalan tubuh.
“Tubuh yang mendapatkan nutrisi cukup akan lebih siap menghadapi perubahan cuaca. Jangan biasakan melewatkan makan atau mengonsumsi makanan tidak sehat,” ujarnya.
Selain itu, olahraga ringan secara rutin dapat membantu menjaga kebugaran dan meningkatkan imunitas tubuh. Aktivitas fisik tidak harus berat, cukup dilakukan secara konsisten sesuai kemampuan masing-masing.
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Cuaca Tidak Menentu
Dr. Encep juga mengingatkan bahwa kesehatan mental memiliki peran penting dalam menjaga daya tahan tubuh. Stres yang berkepanjangan dapat menurunkan imunitas dan membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit.
“Pikiran yang tenang dan hati yang nyaman sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik. Oleh karena itu, kelola stres dengan baik dan hindari kecemasan berlebihan akibat kondisi cuaca,” tuturnya.
Sebagai seorang muslim, ia mengajak masyarakat untuk memperkuat ikhtiar batin dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, ketenangan spiritual dapat membantu menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran.
Kesadaran Kolektif Hadapi Dampak Perubahan Iklim
Lebih lanjut, dr. Encep menegaskan bahwa menjaga kesehatan di tengah cuaca ekstrem bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan kesadaran kolektif masyarakat. Edukasi kesehatan, kebiasaan hidup bersih, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
“Kesehatan adalah aset berharga. Dengan pola hidup sehat, ikhtiar yang maksimal, dan doa, insyaallah kita dapat menghadapi cuaca ekstrem dengan kondisi tubuh yang tetap prima,” pungkasnya.












