Ketika Kepercayaan jadi Kunci: Tantangan Pembinaan Atlet KONI Subang dari Sudut Lain

Tantangan Pembinaan Atlet KONI Subang dari Sudut Lain

klikduakali.id – Persoalan yang tengah melanda Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Subang bukan sekadar soal dinamika organisasi biasa. Di balik dinamika itu, yang sesungguhnya terjadi adalah retaknya kepercayaan antara pemerintah daerah dan sosok ketua KONI sebelumnya, yang berpotensi berdampak pada proses pembinaan atlet yang selama ini menjadi prioritas bersama.

Kepercayaan merupakan modal utama dalam hubungan antar lembaga, termasuk antara aparat pemerintahan dan organisasi olahraga. Ketika pemerintah daerah mempertanyakan kepemimpinan ketua KONI, hal ini bukan semata persoalan personal, melainkan cerminan bahwa fungsi tata kelola organisasi olahraga sedang diuji. Ketidakpastian tersebut mengakibatkan percepatan program pembinaan menjadi terhambat dan mengaburkan arah strategis pembinaan prestasi atlet.

Kondisi ini diperparah oleh dinamika administratif pencairan dana hibah pembinaan atlet yang sempat tertunda, yang kemudian memunculkan respons aktif dari berbagai pihak untuk menjembatani kebutuhan mendesak cabor dan atlet dalam menghadapi kompetisi tingkat provinsi seperti Porprov. Konsekuensinya, organisasi olahraga lokal harus bersikap lebih proaktif dalam menjaga stabilitas internal agar program pembinaan tidak hanya bergantung pada satu figur pimpinan saja.

Menariknya, kurangnya kepercayaan itu membuka ruang refleksi yang lebih luas: bahwa keberhasilan pembinaan atlet tak hanya ditentukan oleh figur ketua, tetapi juga oleh kekuatan struktural dan sinergi antara pengurus, pemerintah daerah, cabor, dan pemangku kepentingan lain. Realitas ini terlihat setelah penunjukan pelaksana tugas (Plt.) ketua KONI yang baru, yang berfokus pada transparansi anggaran dan konsolidasi persiapan menuju Porprov Jabar 2026.

Dalam konteks pembinaan prestasi, maka setiap pihak—termasuk pemerintah—memiliki peran sentral dalam memastikan organisasi olahraga berjalan sehat, akuntabel, serta tetap produktif meski menghadapi persoalan kepercayaan. Jika hal itu bisa direstorasi dan didukung oleh tata kelola yang baik, pembinaan atlet bukan hanya akan berjalan, tetapi juga menghasilkan prestasi yang lebih berkelanjutan. (Redaksi : klikduakali-CA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five − 3 =