klikduakali.id – Ketidakpastian kembali mendominasi pasar kripto. Alih-alih diperlakukan sebagai aset lindung nilai, bitcoin justru semakin dipersepsikan sebagai instrumen berisiko tinggi yang sensitif terhadap gejolak pasar global, khususnya sektor teknologi Amerika Serikat.
Dalam dua pekan terakhir, tekanan jual yang konsisten membuat bitcoin bertahan di bawah level psikologis US$73.000. Pergerakan ini menandai fase kehati-hatian investor setelah reli agresif di awal tahun gagal berlanjut. Koreksi yang mendekati 18 persen sejak pertengahan Januari menunjukkan perubahan sikap pasar dari euforia menuju mode defensif.
Pada perdagangan Rabu (4/2) waktu AS, bitcoin sempat melemah hingga area US$72.000 seiring anjloknya indeks Nasdaq lebih dari 2 persen. Sinkronisasi pergerakan tersebut mempertegas bahwa pelaku pasar kini memposisikan bitcoin sejalan dengan saham teknologi, terutama saat sentimen risiko global memburuk.
Perubahan narasi ini berdampak langsung pada nilai pasar. Kapitalisasi bitcoin menyusut ke kisaran US$1,45 triliun, terpangkas sekitar US$500 miliar sejak mencetak rekor tahunan di level US$97.500 pada pertengahan Januari. Dalam rupiah, nilai yang menguap tersebut setara lebih dari Rp7.800 triliun.
Likuidasi dan ETF Jadi Cermin Psikologi Pasar

Tekanan tidak hanya terlihat di pasar spot. Di pasar derivatif, gelombang likuidasi mencerminkan berakhirnya optimisme jangka pendek. Dalam kurun 24 jam, posisi spekulatif senilai lebih dari US$830 juta terhapus, dengan mayoritas berasal dari posisi beli yang berharap harga terus menanjak.
Sementara itu, arus dana keluar dari ETF bitcoin spot memperlihatkan sikap wait and see investor institusional. Sekitar US$272 juta tercatat meninggalkan produk ETF, mengindikasikan bahwa pelaku besar memilih mengamankan likuiditas ketimbang mengambil risiko lanjutan.
Menariknya, tekanan ini muncul di tengah kabar positif dari sisi regulasi AS, termasuk pembahasan CLARITY Act dan tercapainya kesepakatan politik untuk mencegah penutupan sebagian pemerintahan. Namun, sentimen makro tersebut belum cukup kuat untuk menggeser fokus pasar yang tengah diliputi kekhawatiran global.
Pelemahan tajam saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan, turut mempercepat koreksi bitcoin. Anjloknya saham AMD lebih dari 16 persen, disusul Nvidia, Broadcom, dan Intel, memperburuk persepsi risiko di Nasdaq—dan menyeret aset kripto ikut terseret arus jual.
Kondisi ini semakin memperlebar jarak antara bitcoin dan emas. Saat logam mulia mempertahankan perannya sebagai safe haven, bitcoin justru semakin diasosiasikan dengan aset spekulatif berbasis pertumbuhan.
Strategi Korporasi Mulai Dipertanyakan
Di tengah tekanan pasar, strategi akumulasi bitcoin oleh perusahaan Strategy (sebelumnya MicroStrategy) kembali menjadi sorotan. Pembelian rutin yang sebelumnya dianggap sebagai katalis kini dinilai kehilangan daya dorong terhadap harga pasar.
Kritik datang dari tokoh pasar keuangan AS, Jim Cramer, yang meminta manajemen perusahaan meninjau ulang skema pendanaan agresif. Meski demikian, sebagian analis menilai risiko jangka pendek masih terkendali berkat cadangan kas perusahaan yang kuat.
Pelaku pasar kini mencermati area US$75.000 sebagai zona penentu. Pergerakan di sekitar level tersebut akan menjadi indikator apakah bitcoin mampu memulihkan kepercayaan investor atau justru memasuki fase konsolidasi yang lebih panjang.
Untuk saat ini, pasar kripto tampaknya belum mencari lonjakan harga, melainkan kejelasan arah—di tengah bayang-bayang tekanan global yang belum sepenuhnya mereda. (Redaksi : klikduakali-IN)












